DESA MUNCAR KEC.SUSUKAN KAB. SEMARANG

: Jl. R. Suharman Km 7 Muncar Susukan Kab. Semarang 50777 | : 085640080300 | : desamuncarsusukan@gmail.com

SEJARAH DESA  MUNCAR

Menurut penuturan Orang-orang tua (Sesepuh Desa) pada jaman dahulu Desa Muncar, merupakan dataran perladangan yang banyak ditumbuh berbagai banyak pohon yang hidup secara alami. Dibagian selatan wilayah tersebut dialiri aliran sungai, dan sungai tersebut dinamakan sungai Serang. Pada tahun 1820-an terjadi perlawanan kerajaan Mataram Islam (Ngayogyakarto Hadiningrat) terhadap penjajah Belanda. Puncaknya terjadi perang  Diponegoro karena dikobarkan dan dipimpin seorang Pangeran dari Kraton Mataram yaitu Pangeran Diponegoro. Salah satu pengikutnya yaitu Nyi Ageng Serang yang berasal dari perbatasan daerah Sragen dan Purwodadi yang sekarang disebut kampung Serang. Nyi Ageng Serang masih keturunan dari Sunan Kalijogo.

Pada waktu itu perjalanan dari daerah satu ke daerah lain yang jauh jaraknya menggunakan penunjuk / arah jalan yaitu sungai. Begitu pula dengan Nyi Ageng Serang dalam perjalanan menuju Ngayogyakarto dan Kulonprogo  atau sebaliknya agar terhindar dari tentara Belanda menggunakan penunjuk arah aliran sungai yang berhulu dilereng gunung Merapi dan bermuara di Demak sehingga tersebutlah sungai itu dengan nama sungai Serang.

Nyi Ageng Serang juga mempunyai banyak pengikut yang setia mendampingi dalam perjalanan dan perjuangannya. Pada tahun 1830 perang Diponegoro berakhir, karena Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda dengan tipu muslihatnya. Nyi Ageng Serang dan pengikutnya kembali pulang ke daerahnya melalui sungai Serang. Karena perjalanan yang sangat jauh dan hari menjelang petang rombongan mengalami kelelahan dan beristirahat dan bermalam disuatu daerah. Kemudian setelah pagi harinya rombongan melanjutkan perjalanan, tetapi salah satu orang dari rombongan ada yang terpisah dan tertinggal di daerah itu. Dari kejadian tersebut yakni terpisahnya dari salah seorang dari rombongan tersebut timbulah sebutan Wong sing mencar (orang yang terpisah). Orang yang terpisah dari rombongan itu akhirnya tinggal dan menetap didaerah tersebut, dan beristerikan seorang gadis dari sekitar daerah itu. Kemudian pasangan suami istri itu dikemudian hari dikenal dengan sebutan Ki Koncer dan Nyi Koncer. Maka tempat tinggal dan menetapnya pasangan Ki Koncer dan Nyi Koncer itu disebut Padusunan Muncar. Seiring perjalanan waktu dan jaman, daerah itu banyak didatangi orang-orang pendatang, sehingga menjadikan pedusunan itu terus ramai dan berkembang, akhirnya berkembanglah menjadi sebuah Desa dengan sebutan Desa Muncar. Sampai sekarang masyarakat Muncar meyakini bahwa Ki Koncer dan Nyi Koncer disebut sebagai Cikal Bakal Desa Muncar.

Ki Koncer dan Nyi Koncer serta anak turunnya, bersama dengan orang-orang pendatang yang lain bekerja sama membuka lahan hutan yang ada diwilayah itu sebagai tempat tinggal dan perkampungan yang baru hingga munculah Padusunan-Padusunan baru, yaitu Padusunan Muncar Ledok, Padusunan Muncar Krajan, Padusunan Muncar Jaten dan Padusunan Muncar Nglarangan. Yang masing-masing Dusun tersebut mempunyai legenda dan sejarah sendiri-sendiri yang diyakini oleh masyarakat Dusun setempat. Semakin bertambahnya penduduk yang tinggal di daerah tersebut akhirnya bertambah lagi dua Dukuhan yaitu Dukuhsari dan Dukuh Pareyan.

Dengan adanya Peranturan Daerah dan perkembangan yang pesat empat Padusunan dan dua Dukuhan tersebut pada akhirnya semua menjadi Dusun. Sampai sekarang Desa Muncar yang terbagi atas enam wilayah Dusun  menjadi sebuah Desa yang ramai,maju dan terus berkembang sampai sekarang.

Pemerintahan Desa Muncar diketahui dari awal kepemimpinan seorang Lurah atau Demang tahun 1920. Sebagai Demang yang pertama atas tunjukan dari pemerintah Belanda bernama Rekso Sumarto yang bertempat tinggal di Padusunan Krajan, menjabat sampai tahun 1935. Periode berikutnya tahun 1935 tampuk kepemimpinan Desa dilaksanakan pemilihan secara langsung yang juga dengan sebutan Demang. Pemilihan lurah dilaksanakan di area tanah jebolan (sekarang tanah milik Bapak Trimo). Pemilihan saat itu diikuti 12 calon, yang nama-namanya sebagai berikut :

  1. Bp. Harman (Rekso Diharjo) dari Dusun Nglarangan
  2. Bp. Pawiro Jinah dari Dusun Nglarangan
  3. BP. Khasim dari Dusun Jaten
  4. Bp. Sonto Pawiro dari Dusun Jaten
  5. Bp. Rekso Taruno dari Dusun Krajan
  6. Bp. Mustipah dari Dusun Krajan
  7. Bp. Citro dari Dusun Ledok
  8. Bp. Abu Darim dari Dusun Ledok
  9. Bp. Dur Rahman dari Dusun Ledok
  10. Bp. Wiryo Paminto dari Dusun Parean
  11. Bp. Mimbo dari Dusun Bonomerto (Calon dari Luar Dusun)
  12. Bp. Admo dari Dusun Karangdawung (Calon dari Luar Dusun)

Pemilihan Lurah dilaksanakan secara Bitingan yaitu para pemilih diberikan kesempatan memilih dengan biting (potongan lidi) yang dimasukkan kedalam sebuah bumbung bambu. Pemilihan itu dimenangkan oleh bapak Harman (Rekso Diharjo) dengan masa bakti dari tahun 1935 sampai tahun 1961 dengan imbalan tanah bengkok seumur hidup.

Pada tahun 1961 Bapak Harman(Rekso Diharjo) meninggal dunia di usia senja. Kemudian dilaksanakan pemilihan Lurah untuk pengganti Bapak Harman dilaksanakan di Lapangan Jaten.(sekarang SDN Muncar I) Pemilihan saat itu diikuti 6 calon, diantaranya :

  1. Bp. Supangat dari Dusun Nglarangan
  2. Bp. Suharno dari Dusun Nglarangan
  3. Bp. Sujoko Kadarusman dari Dusun Nglarangan
  4. Bp. Karnadi / R.Atmo Diharjo dari Dusun Nglarangan
  5. Bp. Sunaryo dari Dusun Krajan
  6. Bp. Fauzan dari Dusun Ledok

Pemilihan Lurah tersebut dimenangkan oleh Bapak Supangat dengan masa jabatan tahun 1961 sampai tahun 1969.

Pada tahun 1965 terjadi pemberontakan G 30 S/PKI, dan banyak tokoh-tokoh yang tersangkut dengan peristiwa itu. Termasuk Bapak Supangat, sehingga tidak bisa melaksanakan tugas sampai pada akhir masa jabatannya.

Kemudian pada tahun 1965 dilakukan pemilihan Lurah kembali yang diikuti oleh tiga orang Calon Lurah, yaitu:

  1. Bp. Sujoko Kadarusman dari Dusun Nglarangan
  2. Bp. Karnadi (R. Atmo Diharjo) dari Dusun Nglarangan
  3. Bp. Zarkasi dari Dusun Ledok.

Sistem pemilihan masih menggunakan biting, yang dimenangkan oleh Sujoko Kadarusman, dengan masa jabatan 1965 sampai dengan tahun 1973.

Pada tahun 1969 Lurah Joko Kadarusman terkena masalah administrasi kepemerintahan, akhirnya Lurah Sujoko Kadarusman meninggalkan rumah dan melepaskan jabatannya. Kemudian terjadi kekosongan jabatan dari tahun 1969 sampai tahun 1971 dan di isi oleh Carik Karnadi (R. Atmo Diharjo) dengan status jabatan PD

Kemudian dilaksanakan pemilihan Lurah lagi tahun 1971 diikuti tiga kandidat, yaitu :

  1. Bp. Karnadi (R. Atmo Diharjo) dari Dusun Nglarangan
  2. Bp. Sugimin dari Dusun Krajan
  3. Bp. Gito Budi Prasojo dari Dusun Ledok

Pemilihan Lurah dengan sistem mencoblos tanda gambar masing-masing kandidat, yakni :

  1. Gambar Kendi
  2. Gambar Payung
  3. Gambar Lampu

Pada pemilihan lurah tersebut dimenangkan oleh Bapak R. Atmo Diharjo dengan tanda gambar Kendi. Dengan masa jabatan tahun 1971 sampai dengan seumur hidup. Kemudian pada tahun 1990 terjadi peraturan daerah Kabupaten Semarang yang mengatur tentang masa jabatan dan usia pejabat Lembaga Pemerintahan Desa, sehingga Bapak R,Atmo Diharjo dengan timbulnya peraturan baru tersebut berhenti dari jabatan karena faktor usia. Pada tahun 1990 status Lurah berubah menjadi Kepala Desa. Dengan berhentinya Bapak Atmo Diharjo diadakan pemilihan Kepala Desa pada tahun 1990 dengan diikuti dua Calon kandidat, yaitu :

  1. Bp. Sunar dari Dusun Krajan dengan tanda gambar Padi
  2. Bp. Achmadi dari Dusun Ledok dengan tanda gambar Ketela

Pada pemilihan Kepala Desa tersebut dimenangkan Bapak Sunar yang juga pada waktu itu sebagai purnawirawan TNI. Dengan masa jabatan 1990 sampai dengan 1998. Kemudian masa jabatan 8 tahun sudah berakhir diadakan pesta demokrasi pemilihan Kepala Desa secara langsung tahun 1998 yang diikuti 3 calon kandidat, yaitu :

  1. Bp. Sunar dari Dusun Krajan dengan tanda gambar Jagung
  2. Bp. Achmadi Dari Dusun Ledok dengan tanda gambar Padi
  3. IBu. Sarwisri Dari Dusun Nglarangan dengan gambar Ketela

Pemilihan Kepala Desa tersebut bapak Sunar menang kembali dengan masa jabatan 1998 sampai dengan tahun 2006. Pada akhir tahun 2006 masa jabatan Bapak Sunar berakhir karena Peraturan, Bapak Sunar tidak dapat mencalonkan kembali karena sudah menjabat dua periode secara berturut-turut. Menginjak era Reformasi jabatan Kepala Desa yang pada masa Orde baru selama 8 tahun pada masa Reformasi ini jabatan Kepala Desa diperpendek / dirubah menjadi 6 tahun. Kemudian pada tahun 2006 diadakan pemilihan Kepala Desa kembali dengan dua orang kandidat, yaitu:

  1. Bp. Margono dari Dusun Muncar dengan gambar foto calon
  2. Bp. Marsudi dari Pareyan dengan gambar foto calon

Pemilihan Kepala Desa tahun 2006 dengan pemilihan tanda gambar foto calon dimenangkan Bapak Margono yang pada saat itu masih menjabat sebagai guru Sekolah Dasar Muncar 01, dengan masa jabatan 2006 sampai dengan 2012. Kemudian pada tahun 2012 karena masa jabatannya berakhir diadakan pemilihan Kepala Desa kembali. Pada era ini terdapat peningkatan pada sistem kampanye yaitu para kandidat berkampanye dengan menggunakan media cetak, berupa pemasangan pamflet, baliho yang berisi foto Calon Kepala Desa yang mewakili calon dalam kartu suara, serta penyampaian visi dan misi Calon Kepala Desa. Dalam pemilihan ini hasil perolehan suara masing-masing Calon selisih pemilih tipis. Dengan tiga kandidat yaitu :

  1. Bp. Rusno Jatmiko dari Dusun Muncar
  2. Bp. Drs. Suharto dari Dusun Dukuhsari
  3. Bp. Sholikin dari Dusun Nglarangan

Pemilihan tersebut dimenangkan oleh Bp. Drs. Suharto yang sampai saat ini masih menjabat sebagai Kepala Desa sampai akhir tahun 2018.

Demikian akan kami urutkan nama Kepala Desa Muncar semenjak berdirinya Desa Muncar sampai dengan tahun 2013. Berikut daftar nama Demang / Lurah / Kepala Desa yang pernah menjabat.

 

No

Nama

Alamat

Masa Bakti

Ket

1

R. Rekso Sumarto

Dusun Muncar

1920 - 1935

Demang I

2

R. Rekso Diharjo

Dsn. Nglarangan

1935 - 1961

Demang II

3

Supangat

Dsn. Nglarangan

1961 - 1965

Lurah I

4

R. Joko Kadarusman

Dsn. Nglarangan

1965 - 1969

Lurah II

5

R. Atmo Diharjo

Dsn. Nglarangan

1971 - 1990

Lurah III

6

Sunar

Dsn. Muncar

1990 - 2006

Kades I

7

Margono

Dsn. Muncar

2006 – 2012

Kades II

8

Drs. Suharto

Dsn Dukuhsari

2012 - 2018

Kades III

 

Tahun Kejadian

Peristiwa Baik

Peristiwa Buruk

1945

Kemerdekaan RI

 

1948

 

Pemberontakan DI/TII

1951

 

Penyakit Tumo Kathok

1953

 

Turunya garong MMC

1955

Pemilihan Umum pertama

 

1961

Pemilihan Lurah dengan 6 calon

 

1963

 

Gagal panen (Ganepo)

1965

Pemilihan Lurah dengan 3 calon

Pemberontakan G 30 S/PKI

1969

 

masalah administrasi pemerintahan Desa

1971

Pemilu ke-dua (3 Partai)

 

1977

Pemilu ke-tiga (3 Partai)

 

1978

pembangunan gedung balai desa Muncar

 

1982

Pemilu ke-empat (3 Partai)

 

1987

Pemilu ke-lima (3 Partai)

 

1990

Pemilihan Kades (2 calon)

  1. Sunar
  2. Achmadi

 

1992

Pemilu ke-enam

 

1997

Pemilu ke-tujuh (3 Partai)

 

1998

Pemilihan Kades (3 calon)

  1. Sunar
  2. Achmadi
  3. Sarwisri

 

1999

Pemilu ke-delapan (banyak Partai)

 

2001

Pemilihan Kadus Muncar, satu calon

 

2002

Pemilihan Kadus Ledok (2 Calon)

 

2004

Pemilu ke-sembilan (banyak Partai)

 

2006

Pemilihan Kades (2 calon)

  1. Margono
  2. Marsudi

 

2009

  • Pemilihan Kaur Umum (2 Calon)
  • Pemilu ke-sepuluh Legislatif
  • Pemilu Presiden dan wakil presiden

 

wabah flu burung

2010

  • Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati

 

2011

  • Mendapat bantuan PNPM untuk pembangunan jembatan
  • Bantuan APBD I untuk pembangunan bendungan Sukomerto

 

2012

Pemilihan Kepala Desa (3 Calon)

  1. Rusno Jatmiko
  2. Drs. Suharto
  3. Sholikin

 

 

ALBUM